Sejarah Raja Jambi dalam Lintasan Global: Membaca Kepemimpinan Melayu dari Catatan Dunia

Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Mukhtar Latif

JAMBIjambiaktual.co.id Sejarah Kerajaan Jambi tidak dapat dilepaskan dari arus besar peradaban global. Hal ini ditegaskan oleh Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Mukhtar Latif, dalam kajian mendalam berjudul “Sejarah Raja Jambi dalam Lintasan Global: Perspektif Catatan Arab, Belanda, China, India, Inggris, dan Portugis”.

Menurut Prof. Mukhtar, Jambi bukan sekadar entitas lokal di tepian Sungai Batanghari, melainkan simpul penting jaringan perdagangan dan politik internasional sejak awal Masehi. Bukti arkeologis di kawasan Muaro Jambi menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat peradaban jauh sebelum munculnya catatan kolonial Eropa.
Menentukan raja pertama Jambi bukan sekadar mencari nama, tetapi memahami bagaimana kekuasaan lokal beradaptasi dengan perubahan zaman dan pengaruh global,” ujarnya.

Dalam catatan China sejak Dinasti Han hingga Ming, Jambi digambarkan sebagai negeri makmur penghasil lada dan kemenyan yang aktif mengirim utusan diplomatik. Sementara itu, sumber India dan prasasti Chola menempatkan Jambi—disebut sebagai Malaiyur—sebagai kerajaan kuat dengan sistem kosmologi kekuasaan Hindu-Buddha, bagian dari dinamika Melayu–Sriwijaya.
Transformasi besar terjadi pada abad ke-15 ketika Putri Selaras Pinang Masak, pewaris trah Melayu Kuno Dharmasraya, menikah dengan Ahmad Salim (Datuk Paduko Berhalo), seorang ulama dan bangsawan Muslim dari kawasan Timur Tengah. Peristiwa ini menandai peralihan fundamental dari sistem kerajaan Hindu-Buddha menuju Kesultanan Islam Jambi.

Perubahan gelar dari Raja menjadi Sultan bukan sekadar simbol, tetapi refleksi adaptasi politik Jambi terhadap dunia Islam global,” jelas Prof. Mukhtar. Dalam struktur baru ini, hukum Islam mulai diintegrasikan dengan adat Melayu, menciptakan stabilitas politik dan memperluas jaringan perdagangan internasional.

Catatan kolonial Belanda, termasuk naskah Stamboek van het vorstenhuis van Jambi yang tersimpan di Leiden, mengonfirmasi bahwa garis keturunan Sultan Jambi berakar dari pernikahan tersebut. Namun, Prof. Mukhtar menekankan bahwa historiografi kolonial kerap menyederhanakan kompleksitas identitas lokal dan legitimasi tradisional masyarakat Jambi.
Dalam perspektif Eropa—Portugis, Inggris, dan Belanda—Jambi dipandang sebagai pusat ekonomi strategis sekaligus arena perebutan pengaruh dagang.

Sultan-sultan Jambi, termasuk Sultan Thaha Syaifuddin, dikenal sebagai negosiator tangguh yang mampu memainkan rivalitas kekuatan asing demi mempertahankan kedaulatan.
Kajian ini menegaskan bahwa Raja dan Sultan Jambi adalah aktor global pada masanya, bukan penguasa pinggiran. Dengan membaca ulang sejarah dari berbagai sumber dunia, narasi Jambi dapat dibebaskan dari sudut pandang tunggal kolonial dan ditempatkan secara proporsional dalam sejarah Asia Tenggara.

Jambi adalah bukti bahwa peradaban Melayu mampu beradaptasi, bernegosiasi, dan bertahan dalam pusaran sejarah dunia,” pungkas Prof. Mukhtar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *