Hulu Balang Sakti Alam Kerinci Tegaskan Peran Penjaga Adat dan Alam, Siap Jadi Sayap Kanan LAM Kerinci

KERINCI, jambiaktual.co.id — Pengurus inti Hulu Balang Sakti Alam Kerinci menggelar pertemuan perdana bersama Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM Kerinci) di Sekretariat LAM-SAK, Kamis (29/1/2026). Pertemuan ini menandai penguatan peran Hulu Balang sebagai penjaga adat, pengawal marwah negeri, serta pelindung alam di tengah derasnya arus pembangunan.

Ketua Hulu Balang Sakti Alam Kerinci terpilih, Efyarman, menegaskan kesiapan lembaganya untuk berdiri sebagai sayap kanan LAM Kerinci, menjalankan tanggung jawab adat dalam memastikan pembangunan tidak melampaui batas nilai-nilai luhur warisan leluhur.

“Hulu Balang hadir bukan untuk menciptakan ketegangan, tetapi menjaga keseimbangan antara pembangunan, adat, dan kelestarian lingkungan. Kami berdiri untuk menjaga negeri, bukan menakut-nakuti,” tegas Efyarman.

Menurutnya, Sakti Alam Kerinci bukan ruang kosong, melainkan wilayah bertuah yang memiliki sejarah, batas adat, serta titipan leluhur yang tidak boleh diabaikan oleh kepentingan apa pun. Hulu Balang, kata dia, bertugas mengingatkan sebelum alam dan marwah negeri benar-benar dilukai.

“Pembangunan boleh berjalan, tetapi tidak boleh melukai alam dan mengabaikan hak anak negeri,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Efyarman juga berharap LAM Kerinci senantiasa memberikan bimbingan dan arahan agar peran Hulu Balang tetap berada pada koridor adat.

“Kami mohon arahan dari LAM Kerinci agar langkah Hulubalang lebih terarah dan tetap berpijak pada adat,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal LAM Kerinci, Safwandi, Dpt (Kepalo Sembah), menilai kehadiran Hulu Balang merupakan panggilan adat untuk menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan di Tanah Sakti Alam Kerinci.

“Hulu Balang bukan simbol semata. Ketika adat terpinggirkan dan alam terancam, maka Hulu Balang wajib berdiri di barisan terdepan,” ujar Safwandi.

Ia mengingatkan bahwa dalam pandangan adat Kerinci, kerusakan alam selalu berujung pada penderitaan manusia.

“Kalau hutan rusak, air akan marah. Kalau air marah, manusia akan susah. Itu hukum adat yang sudah terbukti,” tegasnya.

Safwandi juga menekankan pentingnya peran generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya di tengah modernisasi.

“Anak muda boleh maju, tetapi jangan lupa tanah tempat berpijak. Adat itu penuntun arah, bukan beban,” katanya.

Melalui pertemuan ini, Hulu Balang Sakti Alam Kerinci menegaskan komitmennya untuk terus bersuara, mengawal kebijakan, serta menjaga adat dan alam demi keberlanjutan negeri dan masa depan generasi mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *