SungaiPenuh,jambiaktual.co.id – PT Kerinci Merangin Hidro (KMH) menggelar coffee morning bersama insan pers dan LSM Kerinci–Sungai Penuh yang berlangsung di Aula Hotel Mahkota Sungai Penuh, Kamis (5/1/2026). Kegiatan ini digelar sebagai bentuk keterbukaan informasi publik sekaligus klarifikasi atas isu penyusutan air Danau Kerinci yang belakangan menjadi perhatian masyarakat.
Dalam forum tersebut, Manajer Humas PLTA Kerinci, Aslori, menegaskan bahwa isu kebutuhan air sebesar 100 meter kubik per detik oleh PLTA Kerinci perlu dipahami secara utuh. Menurutnya, debit 100 meter kubik per detik tersebut merupakan kebutuhan maksimal untuk mengoperasikan empat unit turbin guna menghasilkan daya listrik hingga 350 Megawatt.
“Asupan air itu tidak digunakan setiap waktu. Produksi listrik PLTA Kerinci sepenuhnya menyesuaikan permintaan daya dari PLN,” jelas Aslori di hadapan awak media dan perwakilan LSM.
Menanggapi tudingan bahwa operasional PLTA menjadi penyebab utama surutnya air Danau Kerinci, Aslori menegaskan hal tersebut tidak berdiri sendiri. Ia menjelaskan bahwa penyusutan air danau dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, di antaranya pendangkalan sungai serta faktor iklim regional.
Aslori memaparkan bahwa sejak akhir 2025 hingga Januari 2026 telah dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara masif di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Operasi tersebut bertujuan menekan curah hujan tinggi untuk mengurangi risiko banjir dan mencegah bencana susulan akibat siklon.
“Hingga 14 Januari 2026, tercatat lebih dari 1.201 sorti penerbangan OMC dilakukan dengan menggunakan bahan semai NaCl dan CaO. Tingkat keberhasilan pengurangan curah hujan mencapai lebih dari 30 persen,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Aslori juga menunjukkan dokumentasi historis yang memperlihatkan bahwa penyusutan air Danau Kerinci pernah terjadi pada tahun 2015 dan 2019, jauh sebelum PLTA Kerinci beroperasi. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa fluktuasi air danau bukan semata-mata disebabkan oleh aktivitas PLTA.
“Kondisi surut ini bukan fenomena baru dan tidak bisa serta-merta dikaitkan hanya dengan operasional PLTA,” tegas Aslori.
Melalui kegiatan coffee morning ini, PT KMH berharap masyarakat memperoleh informasi yang berimbang dan berbasis data, serta tidak terjebak pada narasi sepihak terkait kondisi Danau Kerinci.





