JAMBI – Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Mukhtar Latif, menilai sepak bola tidak hanya berfungsi sebagai olahraga dan hiburan, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam membangun karakter pendidikan bagi generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Mukhtar Latif dalam tulisannya berjudul “Pendidikan dan Bola: Pembelajaran Efektif Membangun Karakter Pendidikan”. Menurutnya, fenomena sepak bola dunia menunjukkan bahwa olahraga ini memiliki kekuatan luar biasa dalam menyatukan masyarakat lintas bangsa, budaya, agama, dan latar belakang sosial.
Ia mencontohkan perhelatan FIFA World Cup 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sejak 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Ajang tersebut diperkirakan disaksikan lebih dari lima miliar orang di seluruh dunia melalui berbagai platform, mulai dari stadion, televisi hingga media digital.
“Jika satu bola mampu menyatukan lebih dari lima miliar manusia selama kompetisi berlangsung, maka sepak bola sesungguhnya merupakan fenomena pendidikan global,” tulisnya.
Menurut Mukhtar, di dalam sepak bola terdapat nilai-nilai penting yang sangat relevan dengan dunia pendidikan, seperti disiplin, kerja keras, kepemimpinan, sportivitas, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama.
Ia menjelaskan, berbagai teori pendidikan modern juga mendukung peran olahraga sebagai sarana pembentukan karakter. Teori pendidikan karakter yang dikemukakan oleh Thomas Lickona, misalnya, menekankan bahwa karakter yang baik dibangun melalui pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral yang dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Semua unsur tersebut dapat ditemukan dalam permainan sepak bola. Pemain belajar memahami aturan, menghormati lawan dan wasit, serta menjalankan permainan secara sportif,” ujarnya.
Mukhtar juga mengutip teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura yang menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi dan teladan. Dalam konteks sepak bola, pemain muda banyak belajar dari pelatih, kapten tim, maupun atlet profesional yang menjadi panutan mereka.
Selain itu, perkembangan sepak bola modern seperti futsal, mini soccer, hingga program football for development dinilai semakin memperluas fungsi olahraga sebagai instrumen pendidikan dan pembangunan sosial.
Menurutnya, sepak bola mampu membentuk berbagai dimensi karakter secara komprehensif. Mulai dari disiplin dalam menjalankan latihan, kerja sama tim, kepemimpinan, sportivitas, ketangguhan mental hingga integritas dalam menghormati aturan permainan.
“Sepak bola merupakan miniatur kehidupan. Tidak semua usaha berakhir dengan kemenangan. Kadang seseorang harus menerima kekalahan, menghadapi kritik, bahkan memulai kembali dari awal. Dari situlah karakter dibentuk,” katanya.
Mukhtar menambahkan, sejumlah negara seperti Brasil, Jerman dan Jepang telah berhasil menjadikan sepak bola sebagai instrumen pembentukan karakter bangsa yang terintegrasi dengan sistem pendidikan.
Dalam konteks Indonesia, ia menilai kecintaan masyarakat terhadap sepak bola merupakan modal sosial yang sangat besar untuk membangun generasi yang disiplin, tangguh, sportif dan memiliki semangat gotong royong.
Di tengah era digital yang ditandai meningkatnya penggunaan gawai dan berkurangnya interaksi sosial,
Mukhtar menegaskan bahwa lapangan sepak bola tetap menjadi ruang pembelajaran yang nyata bagi peserta didik.
“Pada akhirnya, tujuan pendidikan dan sepak bola sesungguhnya sama, yaitu membentuk manusia yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga mulia dalam karakter,” pungkasnya. (*)





