Jambi Memanas! Demo Mahasiswa, Ojol, dan Pelajar Ricuh: Polisi Dituding Brutal

Kota Jambijambiaktual.co.id  berubah menjadi pusat ledakan amarah rakyat. Ribuan massa gabungan mahasiswa, pengemudi ojek online (ojol), dan pelajar memadati depan Kantor DPRD Provinsi Jambi sejak Kamis (29/8) siang. Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah ricuh setelah tidak ada satu pun anggota DPRD yang menemui massa.

Sekitar pukul 14.00 WIB, bentrokan pecah. Polisi menembakkan gas air mata dan granat kejut ke arah demonstran. Jalanan Jambi mendadak sesak oleh asap, teriakan, dan suara tangis. Massa yang hanya bersenjatakan poster dan yel-yel perlawanan membalas dengan lemparan batu dan botol.

Empat Tuntutan Rakyat

Aksi ini mengusung empat tuntutan utama yang disuarakan dengan tegas:

1. Usut Tuntas Kekerasan Aparat – Mendesak Kapolri dan Propam melakukan investigasi transparan serta memproses hukum semua pihak yang terlibat.

2. Pertanggungjawaban Korban – Memberikan kompensasi, santunan, dan pemulihan hak bagi korban ojol yang terluka maupun meninggal.

3. Reformasi Polri Nyata – Mendesak Presiden dan DPR mempercepat reformasi kepolisian serta mengevaluasi penggunaan kekuatan berlebihan.

4. Hentikan Represi – Menolak kriminalisasi dan intimidasi terhadap rakyat yang menyampaikan aspirasi secara konstitusional.

 

Korban Berjatuhan, Medis Kewalahan

Puluhan demonstran dilaporkan tumbang. Ada yang pingsan akibat gas air mata, ada pula yang mengalami luka fisik. Relawan medis mengaku kewalahan menangani korban karena jumlahnya terus bertambah.

Ini bukan pengamanan, ini penyerangan! Kami hanya ingin keadilan, tapi dibalas dengan peluru gas,” teriak Rizki Alfarisi (20), mahasiswa peserta aksi dengan mata merah terkena gas air mata.

DPRD Bungkam, Rakyat Menggugat

Sementara kericuhan terjadi di luar, gedung DPRD Jambi tetap senyap. Tak satu pun wakil rakyat keluar menemui demonstran. Kondisi ini semakin memicu kemarahan massa.

Hingga malam, situasi belum mereda. Polisi terus menggempur dengan gas air mata, sementara massa membalas dengan semangat perlawanan. Barikade-barikade darurat berdiri di berbagai titik.

Darah rakyat bukan alat legitimasi kekuasaan! Polisi ada untuk melindungi, bukan melukai!” – pekik massa yang menggema di setiap sudut aksi.

Gelombang Perlawanan

Aksi ini tak lagi sekadar unjuk rasa, melainkan perlawanan terbuka rakyat terhadap kekerasan negara. Jika tuntutan tidak segera ditanggapi, gelombang protes diyakini akan terus membesar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *