JAMBI – jambiaktual.co.id Puasa tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai praktik ritual yang bersifat individual antara manusia dan Tuhan. Lebih dari itu, ibadah tersebut memiliki dimensi sosial dan moral yang berfungsi sebagai mekanisme pembentukan disiplin diri.
Hal itu disampaikan oleh akademisi UIN STS Jambi, Yulfi Alfikri Noer, yang menegaskan bahwa pemaknaan puasa yang terlalu privat justru menyederhanakan esensinya. Menurutnya, puasa bukan hanya kepatuhan personal, melainkan sarana pengendalian diri yang berdampak luas dalam kehidupan sosial.
“Dalam tafsir klasik, para ulama konsisten menekankan dimensi moral puasa. Ibadah ini bertujuan menumbuhkan takwa yang tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam perilaku,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menafsirkan frasa la‘allakum tattaqun sebagai upaya menundukkan hawa nafsu dan mempersempit ruang godaan dalam diri manusia. Sementara itu, Al-Qurthubi menegaskan bahwa takwa mencakup penjagaan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat, bukan sekadar memenuhi aspek formal hukum.
Penegasan tersebut juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah, yang menyebutkan bahwa banyak orang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus.
Menurut Yulfi, hadis itu mengandung pesan penting bahwa puasa memiliki dua dimensi, yakni lahiriah dan batiniah. Secara hukum, puasa dinilai sah apabila syarat dan rukunnya terpenuhi. Namun secara etik, puasa baru bernilai apabila mampu menghasilkan perubahan moral.
“Di sinilah letak tantangannya. Puasa bisa saja sah secara fikih, tetapi gagal secara etik jika tidak diiringi perubahan perilaku,” katanya.
Ia menambahkan, dalam perspektif maqashid syariah, puasa berfungsi sebagai instrumen penjagaan diri sekaligus pembentukan kemampuan pengendalian impuls. Dalam konteks modern, hal ini berkaitan dengan konsep self-regulation yang menjadi dasar bagi sikap bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Namun demikian, ia menilai problem muncul ketika puasa direduksi menjadi simbol identitas semata. Praktiknya sering berhenti pada rutinitas sahur, imsak, dan berbuka, tanpa pendalaman makna. Bahkan, di tengah masyarakat konsumtif, bulan puasa justru kerap diiringi lonjakan konsumsi dan komersialisasi.
“Padahal indikator keberhasilan puasa bukan kuantitas ritual, melainkan kualitas perubahan sikap, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ia menegaskan, esensi puasa terletak pada transformasi karakter yang berkelanjutan. Ibadah ini berfungsi sebagai mekanisme internalisasi batas, membentuk kemampuan menahan, menimbang, dan mengarahkan dorongan diri agar selaras dengan prinsip etis.
“Pertanyaan utamanya bukan apakah puasa dijalankan, tetapi apakah puasa menghasilkan kesadaran moral yang tetap hidup bahkan tanpa pengawasan. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah lapar dan haus,” pungkasnya.





