a. Perkenalan
Haii, aku Fairuz umurku 11 tahun.
Hari ini aku belajar bahwa masa depan lingkungan sangat penting.
Contoh nyata yang terjadi di Indonesia karena ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah terhadap lingkungan adalah daerah Sumatera Utara.
b. Imbas terhadap Flora
Dimana Pemerintah Republik Indonesia melakukan deforestasi di kebanyakan wilayah Sumatera Utara.
Deforestasi dilakukan untuk mengganti hutan lindung yang tumbuh disana manjadi perkebunan sawit.
Permintaan komoditas global akan kelapa sawit membuat korporasi besar di sektor perkebunan kelapa sawit, HTI (Hutan Tanaman Industri), dan pertambangan, memili untuk melakukan deforestasi terhadap hutan konservasi disana.
Sayangnya, perusahaan-perusahaan diatas diberi izin resmi dari Pemerintah pusat atau daerah.
Tanggapan dari pemerintah malah mengatakan alasan banjir bandang dan longsor di
Sumatera Utara karna curah hujan yang tinggi.
Pertanyaannya, apakah pemerintah tidak memikirkan dampak dari deforestasi tersebut?
Atau pemerintah tahu tetapi memilih diam karena mendapat bagian dari ekspor kelapa sawit?
Korban berjatuhan dan sudah berjumlah ribuan, apakah banjir bandang dan longsor hanya karena curah hujan yang tinggi?
Apakah pemerintah tidak tahu bahwa akar kelapa sawit bersifat serabut, sedangkan
pohon hutan konservasi dan hutan lindung berakar tunggang?
Jika anda tidak tahu, saya beritahu bahwa pohon-pohon hutan lindung itu bisa mengurangi resiko tanah longsor dan banjir bandang karena sistem perakaran yang rapat dan kuat mengikat tanah, terutama di lereng curam. Sehingga menjaga stabilitas tanah dan akar pohon berfungsi seperti spons raksasa yang menyerap air, sementara daun dan ranting menahan laju air hujan. Akar menciptakan pori-pori tanah (infiltrasi) yang memudahkan air meresap daripada mengalir di permukaan.
Sementara akar kelapa sawit itu akarnya serabut tidak bisa mengikat tanah dengan baik!.
Untungnya Menteri Kehutanan RI bapak Raja Juli Antoni sudah menindak tegas 28 perusahaan yang berselubung dengan deforestasi di sumatera utara.
c. Dampak ke Fauna
Ayolah teman-teman kita lindungi wilayah hutan konservasi agar spesies-spesies hewan endemik kita tidak manjadi dongeng belaka di generasi mendatang. Dan hanya tercetak di sejarah sebagai spesies yang pernah ada.
Sudah banyak spesies yang terkena imbas dari deforestasi seperti: Orangutan Sumatera (Pongo abeli), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatronus), harimau Sumatera (Panthera tigris
sumatrae).
d. Kesimpulan akhir
Berdasarkan alasan-alasan di atas, marilah kita semua melindungi flora dan fauna di Indonesia ibu pertiwi kita.
Agar anak-cucu kita dapat melihat flora dan fauna secara langsung, bukan hanya mendengar dan melihatnya dari buku, internet, dan lain-lain.
Ayo kita lestarikan hutan Indonesia untuk generasi masa depan kita!
-Fairuz Radhitya Gumantina
Jambi, Indonesia.
Jumat, 30 Januari 206.
a. Perkenalan
Haii, aku Fairuz umurku 11 tahun.
Hari ini aku belajar bahwa masa depan lingkungan sangat penting.
Contoh nyata yang terjadi di Indonesia karena ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah terhadap lingkungan adalah daerah Sumatera Utara.
b. Imbas terhadap Flora
Dimana Pemerintah Republik Indonesia melakukan deforestasi di kebanyakan wilayah Sumatera Utara.
Deforestasi dilakukan untuk mengganti hutan lindung yang tumbuh disana manjadi perkebunan sawit.
Permintaan komoditas global akan kelapa sawit membuat korporasi besar di sektor perkebunan kelapa sawit, HTI (Hutan Tanaman Industri), dan pertambangan, memili untuk melakukan deforestasi terhadap hutan konservasi disana.
Sayangnya, perusahaan-perusahaan diatas diberi izin resmi dari Pemerintah pusat atau daerah.
Tanggapan dari pemerintah malah mengatakan alasan banjir bandang dan longsor di
Sumatera Utara karna curah hujan yang tinggi.
Pertanyaannya, apakah pemerintah tidak memikirkan dampak dari deforestasi tersebut?
Atau pemerintah tahu tetapi memilih diam karena mendapat bagian dari ekspor kelapa sawit?
Korban berjatuhan dan sudah berjumlah ribuan, apakah banjir bandang dan longsor hanya karena curah hujan yang tinggi?
Apakah pemerintah tidak tahu bahwa akar kelapa sawit bersifat serabut, sedangkan
pohon hutan konservasi dan hutan lindung berakar tunggang?
Jika anda tidak tahu, saya beritahu bahwa pohon-pohon hutan lindung itu bisa mengurangi resiko tanah longsor dan banjir bandang karena sistem perakaran yang rapat dan kuat mengikat tanah, terutama di lereng curam. Sehingga menjaga stabilitas tanah dan akar pohon berfungsi seperti spons raksasa yang menyerap air, sementara daun dan ranting menahan laju air hujan. Akar menciptakan pori-pori tanah (infiltrasi) yang memudahkan air meresap daripada mengalir di permukaan.
Sementara akar kelapa sawit itu akarnya serabut tidak bisa mengikat tanah dengan baik!.
Untungnya Menteri Kehutanan RI bapak Raja Juli Antoni sudah menindak tegas 28 perusahaan yang berselubung dengan deforestasi di sumatera utara.
c. Dampak ke Fauna
Ayolah teman-teman kita lindungi wilayah hutan konservasi agar spesies-spesies hewan endemik kita tidak manjadi dongeng belaka di generasi mendatang. Dan hanya tercetak di sejarah sebagai spesies yang pernah ada.
Sudah banyak spesies yang terkena imbas dari deforestasi seperti: Orangutan Sumatera (Pongo abeli), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatronus), harimau Sumatera (Panthera tigris
sumatrae).
d. Kesimpulan akhir
Berdasarkan alasan-alasan di atas, marilah kita semua melindungi flora dan fauna di Indonesia ibu pertiwi kita.
Agar anak-cucu kita dapat melihat flora dan fauna secara langsung, bukan hanya mendengar dan melihatnya dari buku, internet, dan lain-lain.
Ayo kita lestarikan hutan Indonesia untuk generasi masa depan kita!
-Fairuz Radhitya Gumantina
Jambi, Indonesia.
Jumat, 30 Januari 206.

