Tanjung Jabung Disebut Beranda Energi dan Gerbang Kemajuan Jambi, Prof Haryadi Soroti Potensi Hilirisasi Kelapa dan Ekonomi Maritim

Guru Besar dan Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.,

JAMBIjambiaktual.co.id Kawasan Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi masa depan Provinsi Jambi. Selain dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas), kawasan ini juga memiliki kekuatan di sektor perkebunan, perikanan, pelabuhan, dan ekonomi maritim.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar dan Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S., dalam tulisannya yang berjudul “Tanjung Jabung: Beranda Energi dan Gerbang Kemajuan Jambi.”

Menurut Haryadi, meskipun secara administratif Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat telah terpisah sejak pemekaran tahun 1999, kedua wilayah tersebut sejatinya merupakan satu kesatuan kawasan ekonomi yang saling terhubung.

“Pemekaran wilayah memang melahirkan dua pemerintahan yang berbeda, tetapi tidak memisahkan sungai yang sama, laut yang sama, budaya yang sama, dan ruang ekonomi yang saling terhubung,” ujarnya.

Ia menjelaskan, posisi geografis Tanjung Jabung sangat strategis karena berada di hilir Sungai Batanghari dan berhadapan langsung dengan jalur perdagangan internasional di pesisir timur Sumatra. Kondisi tersebut menjadikan kawasan ini sebagai pintu keluar berbagai komoditas unggulan Jambi sekaligus gerbang masuk peluang ekonomi dari luar daerah.

Selain keunggulan geografis, Tanjung Jabung juga memiliki kekuatan ekonomi yang ditopang sektor migas. Tanjung Jabung Barat selama ini menjadi salah satu kawasan penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Provinsi Jambi.

Berdasarkan data Jambi Data Analytics Center (JDAC) tahun 2024 yang dikutip Haryadi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencapai sekitar Rp166,33 juta per tahun, tertinggi di Provinsi Jambi. Sementara Kabupaten Tanjung Jabung Timur mencapai sekitar Rp114,22 juta per tahun.

Namun demikian, Haryadi menilai besarnya potensi ekonomi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal bagi masyarakat karena masih dominannya aktivitas ekonomi berbasis komoditas primer.

Persoalan utama yang dihadapi bukan kekurangan sumber daya, melainkan tantangan tata kelola pembangunan dan masih terbatasnya hilirisasi industri,” katanya.

Selain migas, kawasan Tanjung Jabung juga dikenal sebagai sentra perkebunan sawit, kelapa, dan pinang. Bahkan komoditas pinang dari daerah tersebut telah menembus pasar ekspor ke sejumlah negara Asia Selatan.

Menurut Haryadi, komoditas kelapa memiliki peluang besar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di masa depan. Pasalnya, hampir seluruh bagian kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari minyak kelapa murni (virgin coconut oil), santan industri, karbon aktif dari tempurung, hingga produk turunan sabut kelapa seperti coco fiber dan coco peat.

Karena itu, ia mendorong pembangunan kawasan industri kelapa terpadu di Tanjung Jabung dengan melibatkan petani, koperasi, UMKM, industri pengolahan, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan pemerintah daerah dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Jika dikelola secara terintegrasi, Tanjung Jabung berpeluang menjadi pusat industri kelapa terbesar di pesisir timur Sumatra,” tegasnya.

Di sisi lain, potensi sektor perikanan, kawasan mangrove, pelabuhan, dan ekonomi maritim juga dinilai sangat menjanjikan. Haryadi menyebut Tanjung Jabung memiliki peluang besar untuk berkembang dalam konsep blue economy atau ekonomi biru yang saat ini menjadi tren pembangunan global.

Ia menegaskan, masa depan Tanjung Jabung tidak cukup hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam, tetapi harus diarahkan pada penguatan industri hilir, peningkatan nilai tambah, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Masa depan kawasan ini akan ditentukan oleh kemampuan mengubah kekayaan alam menjadi nilai tambah, mengubah komoditas menjadi industri, serta mengubah keunggulan geografis menjadi keunggulan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Dengan kekuatan sektor energi, perkebunan, kelautan, pelabuhan, dan posisi geografis yang strategis, Tanjung Jabung dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama di Provinsi Jambi pada dekade mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *